Sunday, November 12, 2017

Pilihanmu Tanggung Jawabmu



Inget gak sih waktu kelas 12 pernah ngobrol bareng temen – temen seandainya kalau udah lulus SMA mau ngapain ? Apakah semuanya punya pemikiran yang sama dengan kita ? Apakah mau kuliah, kerja, atau menikah ? Pasti pemikiran kita dengan teman – teman berbeda. Ada yang punya rencana untuk kuliah dengan jurusan yang sudah diidamkan sejak kecil, ada  yang mau  kuliah dengan jurusan tertentu karena diminta orangtuanya , bahkan ada yang masih bingung mau jurusan apa dan masuk perguruan tinggi mana. Selain itu, mungkin ada dari beberapa teman kita yang memilih untuk tidak langsung kuliah melainkan bekerja dulu selama satu tahun, lalu kuliah di tahun selajutnya karena beberapa alasan. Bahkan mungkin saja sudah ada yang merencanakan untuk menikah.
Banyak yang bilang kalau kehidupan yang sesungguhnya adalah saat lulus dari bangku sekolah. Terutama lulusan SMA/sederajat. Banyak sekali pilihan yang ada didepan mata, seperti yang sudah dibahas diatas misalnya melanjutkan kuliah. Hidup adalah pilihan, mungkin sebagian dari kita akan menyadari dan merasakan hal itu, karena memang kita harus mampu dan berani menentukan satu dari sekian banyak pilihan dalam kehidupan ini.
Mungkin saja rencana-rencana yang telah disusun sejak lama bisa berubah seketika setelah kelulusan tiba. Seperti yang dialami teman saya, sebut saja Mawar. Sejak SD dia sangat menyukai pelajaran matematika dan punya cita – cita untuk kuliah di UPI dan menjadi guru matematika. Saat pengumuman SNMPTN dia diterima di Pendidikan Matematika UPI, namun karena ada kesalahan saat pengisian data pendapatan orangtua, UKT yang didapat melebihi kesanggupan orangtuanya. Sedangkan dia dan keluarganya merupakan keluarga yang kurang mampu. Karena tidak ingin membebani orangtuanya, dia melepas hasil SNMPTN nya dan memilih untuk bekerja. Dan sekarang dia kuliah di perguruan tinggi swasta dengan jurusan yang sama. Selain itu, saya juga memiliki rencana yang telah disusun, ternyata berbeda dengan hasil akhirnya. Saya ingin kuliah dengan jurusan Teknik Planologi, namun karena beberapa hal, pada akhirnya saya kuliah di jurusan Teknik Lingkungan. Saat pertama kali saya kuliah di jurusan ini saya merasa ragu bisa mengikuti perkuliahan ataukah tidak, karena saya lemah di pelajaran kimia. Tapi lama kelamaan saya merasa nyaman dan bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Dan saya merasa bahwa jurusan ini sangat cocok dengan saya.
Ikhtiar dan tawakkal hanyalah sebuah sarana untuk mencapai tujuan kita. Segala sesuatunya hanya berhak ditentukan oleh Allah. Artinya, tujuan atau mimpi yang ingin kita capai belum tentu akan kita raih, sekalipun telah melakukan ikhtiar dan tawakkal yang banyak. Kenapa demikian? Apakah Allah murka pada kita? Ternyata Allah sangat sayang kepada kita. Allah itu Maha Mengetahui segalanya. Termasuk segala sesuatu yang kita butuhkan, Allah lebih tahu daripada kita sendiri. Karena, segala sesuatu yang kita inginkan, segala sesuatu yang menurut kita baik, ternyata belum tentu baik menurut Allah.
Setelah kita berada pada pilihan yang kita pilih, maupun pilihan yang dikehendaki oleh Allah, sekaligus kita juga memililiki tanggung jawab atas pilihan tersebut. Dan kita sendiri yang menentukan bagaimana kita kedepannya atas pilihan kita dan atas kepercayaan Allah kepada kita. Apakah akan dilaksanakan sebaik mungkin dengan penuh tanggung jawab , ataukah sebaliknya ?
Pernah gak sih kita mengeluh karena dosen memberikan banyak tugas ? Pernah gak sih kita mengeluh kenapa kuliah itu sangat capek di bandingkan saat sekolah ? Padahal semua itu adalah pilihan kita . Bukankah kita seharusnya menjalaninya dengan ikhlas dan penuh kesabaran ? Apakah dengan mengeluh semuanya akan terasa ringan ? Bukankah pada dasarnya pilihan yang kita pilih merupakan pilihan yang memiliki resiko dan tanggungjawab yang harus dijalani ?
Setelah lulus SMA, kita memilih untuk kuliah. Dengan pilihan ini kita sebagai mahasiswa memiliki tanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat , bangsa dan negara serta kapada Allah.
Tanggung jawab terhadap diri sendiri itu menuntut kesadaran akan diri kita untuk memenuhi kewajiban sendiri dan mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Sebagai mahasiswa kita memiliki kewajiban untuk belajar dengan sungguh-sungguh . Terkadang kita tidak menyadari bahwa belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh sangat diperlukan untuk meraih cita-cita yang diharapkan. Terkadang kita tidak bersungguh-sungguh dalam beajar karena merasa malas, jenuh, ataupun bosan. Untuk itu, diperlukan motivasi diri yang sangat kuat untuk melawan semua itu. Salah satunya dengan mengingat kembali cita-cita yang kita harapkan, mengingat kembali tujuan kuliah yang sebenarnya.
Tanggung jawab terhadap orangtua, jika kita merasa malas atau berada pada titik jenuh saat belajar, cobalah mengingat kedua orangtua kita yang telah susah payah mencari nafkah untuk membiayai kuliah kita dan kehidupan sehari-hari selama kuliah.
Tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa dan negara, sebagian besar mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi disubsidi oleh masyarakat melalui pajak yang diberikan kepada negara, untuk itu jika kita tidak bersungguh-sungguh saat kuliah, secara tidak langsung kita telah menzalimi masyarakat dan menyia-nyiakan waktu kita dan merugikan bangsa dan negara kita.
Tanggung jawab terhadap Allah, Allah telah memercayakan kepada kita untuk memiliki kesempatan yang lebih dibandingkan dengan yang lain yaitu  mengenyam pendidikan lebih di perguruan tinggi, oleh karena itu jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam belajar maka kita telah lalai dalam kesempatan dan karunia yanng telah Allah berikan.  
Untuk kita yang sudah diberi kesempatan kuliah, walaupun banyak sekali tugas yang ada sampai kita mengambil jatah tidur untuk tugas, sehingga kita kurang tidur, nikmati saja.  Banyak sekali orang yang tidak bisa kuliah. Kalau kita merasa lelah dalam belajar atau banyak masalah dalam perkuliahan, ingat kembali perjuangan kita masuk kuliah dulu.
Semua orang punya kesempatan yang sama. Sayangnya, terkadang kesempatan itu tidak memilih orang yang sangat menginginkannya. Justru kesempatan lain yang tidak diinginkan yang memilih orang itu. Yang pasti, ketika kesempatan memilih kita, itu memang jalan kita atas kehendak Allah SWT. Allah tahu apa yang terbaik untuk kita. Marilah berusaha untuk  melakukan yang terbaik dengan bersungguh-sungguh atas segala kesempatan yang kita dapatkan.

No comments:

Post a Comment